P2KP

PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN UNTUK MEMANTAPKAN  KETAHANAN PANGAN DI JAWA TENGAH

Provinsi Jawa Tengah mempunyai potensi yang tinggi dalam menyangga kebutuhan pangan bagi penduduknya. Ini tercermin pada surplus bahan pangan pokok sumber karbohidrat, seperti padi 3.127,752 ton jagung 2.599,038 ton singkong 3,181,441 ton. Sumber protein juga surplus antara lain daging 102,015.59, telur 27,919.35 ton, susu 39,130.23 (sumber Dinas Lingkup Pertanian dan BPS, 2011).

Untuk mensikapi kondisi di atas, kita tidak boleh terlena, tetapi harus dapat memanfaatkan karunia Allah dengan seoptimal mungkin, antara lain dengan menganekaragamkan konsumsi pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beraneka ragam dan seimbang serta aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif.

Di segi lain tingginya ketergantungan masyarakat terhadap satu sumber pangan yaitu beras menjadi ancaman terhadap ketahanan pangan, karena luas areal tanam padi yang semakin berkurang, gangguan iklim serta serangan hama penyakit akan menurunkan produksi beras. Apalagi jumlah penduduk yang terus bertambah akan menyebabkan semakin tingginya kebutuhan beras.

Keberhasilan pembangunan ketahanan pangan di Jawa Tengah sangat ditentukan oleh kelembagaan ketahanan pangan tingkat Kabupaten/Kota yang semakin berkembang di Jawa Tengah.
Kelembagaan ketahanan pangan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah sampai dengan Tahun 2010 terdiri dari 2 Badan Ketahanan Pangan, 5 Badan Pelaksanan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan, 2 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan, 2 Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, KB dan Ketahanan Pangan, 1 Badan Pemberdayaan Masyarakat, KB dan Ketahanan Pangan (UPTB Ketahanan Pangan), 1 Badan Pemberdayaan Masyarakat, KB dan Ketahanan Pangan ( Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Pangan) dan 22 Kantor Ketahanan Pangan.

Keberhasilan Ketahanan Pangan juga didukung dengan terbentuknya Balai Pengembangan Cadangan Pangan (BPCP) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Ketahanan Pangan. Jumlah cadangan pangan yang dikelola pada tahun 2009 sebanyak 70 ton, tahun 2010 menjadi 110 ton GKG (setara 70,2 Ton beras). Pada tahun 2011 sebesar 118 ton GKG  atau setara beras 74,5 ton.

Indikator lain dari mantapnya ketahanan pangan di Jawa Tengah adalah dengan telah terlaksananya program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP)  di Jawa Tengah yang telah dimulai sejak tahun 2009. Beberapa program P2KP yang telah dilaksanakan di Jawa Tengah yaitu pemberdayaan kelompok wanita dalam penganekaragaman konsumsi pangan, optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal. Keberhasilan P2KP di Jawa Tengah antara lain ditandai dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH), dimana pada tahun 2010 skor PPH PPH Jawa Tengah sebesar 86.02 meningkat dari tahun 2009 sebesar 83.7, yang artinya konsumsi pangan masyarakat Jawa Tengah semakin beragam.

Keberhasilan P2KP di Jawa Tengah yang lain  adalah semakin banyak tersedia di masyarakat aneka tepung lokal, seperti tepung mocaf (tepung berbahan dasar singkong), tepung ubi jalar serta tepung-tepungan lokal yang lain. Ini didukung oleh satu paket peralatan penepungan dari pemerintah. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Perguruan Tinggi, pengusaha jasa boga sudah memberikan pelatihan kepada masyarakat luas terutama UKM bidang pangan untuk meningkatkan nilai tambah pangan lokal menjadi produk olahan yang beraneka macam seperti burger singkong, spagetti mie singkong dll.

Menu Pangan lokal perlu diperkenalkan  sejak dini, sejak anak mulai mengenal makanan tambahan selain ASI perlu diperkenalkan dan dibiasakan bahwa pangan sumber karbohidrat tidak hanya beras. Masih banyak yang lain seperti singkong, jagung, ubi jalar dll. Hanya diperlukan sentuhan teknologi sehingga bentuk dan tampilan dan cita rasa pangan lokal semakin menarik dan akan disukai anak-anak.

Pangan lokal dengan sentuhan teknologi pengolahan pangan akan meningkatkan nilai jualnya. Salah satu contoh: harga 1 kg singkong saat ini Rp 1200,-, 10 kg=Rp12.000,-  diolah menjadi tepung mocaf menjadi 3 kg tepung mocaf. Harga 1 kg tepung mocaf Rp6.000,- 3 kg =Rp 18.000,- disamping menjadi tepung mocaf, limbahnya bisa diolah menjadi nata de cassava yang mempunyai nilai jual yang cukup bagus. Tepung mocaf sudah tersedia hampir disemua kabupaten/kota di Jawa Tengah atau melalui institusi yang menangani ketahanan pangan di kabupaten/ kota. Kondisi ini telah diakui oleh daerah atau provinsi lain di Indonesia.

Beberapa Provinsi sudah berkunjung ke Jawa Tengah untuk melakukan studi banding seperti Provinsi Sumatra Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan. Pada tanggal 5-8 Oktober 2011 provinsi Jambi sudah melaksanakan studi banding ke Jawa Tengah, dengan peserta studi banding terdiri dari anggota DPRD, BKP, Bappeda dan TP PKK Provinsi Jambi. Kunjungan akan difokuskan kepada kegiatan pengembangan pangan lokal dan optimalisasi pemanfaatan pekarangan. Wilayah yang dikunjungi yaitu Kabupaten Semarang serta Kabupaten Boyolali yang pernah menjadi juara tingkat nasional tahun 2009.

Penganekaragaman konsumsi pangan perlu disosialisasikan, dipromosikan secara terus menerus, baik melalui, media cetak maupun elektronik serta media yang lain seperti melalui pertemuan PKK, Pengajian dll. Selain hal tsb dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan guna segera mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang semakin sehat, aktif dan produktif yang akan mampu bersaing di negeri tercinta ini.
Developed by JogjaCamp Copyright BKP @ 2010